Kematian Penyu Bukan Akibat Limbah PLTU, Ini Penjelasan Pemprov Bengkulu

by -17 views
Konferensi Pers

BENGKULU | KEJORATIMES.COMKematian penyu di laut Bengkulu, khususnya di kawasan PLTU Teluk Sepang ditegaskan Asisten II Setda Provinsi Bengkulu Yuliswani, berdasarkan hasil uji laboratorium oleh BKSDA, Dinas LHK, serta pengamatan BMKG dan Polair Polda Bengkulu, jelas bukan diakibatkan limbah yang selama ini dipersoalkan para aktivis lingkungan.

“Dari BKSDA, LHK, kemudian BMKG, itu semuanya tidak ada yang menyatakan bahwa kematian penyu ini diakibatkan oleh limbah, kan bisa disimpulkan seperti itu. Jadi, kalau misalnya ada yang menyatakan kematian ini karena limbah, nah buktinya mana? Supaya harus ada pembanding dari yang telah dilakukan seluruh instansi ini,” terangnya saat konferensi pers di Media Center Pemprov Bengkulu, Jum’at (31/1/2020).

Kepala BKSDA Bengkulu Donal Hutasoit menjelaskan, rilis terkait uji lab telah dilakukan pihaknya di Laboratorium Balai Besar Kementerian Pertanian Veteriner Bogor dan Laboratorium IPB. Hasilnya tidak ditemukan benda asing atau zat kimia penyebab kematian penyu, melainkan bakteri salmonelanesis dan bakteri pembusuk, sementara toxicologi perut penyu masih dalam ambang batas dan tidak menunjukkan nilai mempengaruhi mortalitas.

“Terhadap belasan sampel penyu, cairan di dalam tubuh masih di bawah ambang batas. Sehingga bukan itu (limbah-red) penyebab kematiannya,” paparnya.

Hal senada disampaikan Dokter Hewan BKSDA Bengkulu, dr Yanti. Menurutnya, kondisi penyu dan hasil bedah terindikasi racun dalam tubuh penyu berasal dari alam, bukan zat kimia.

“Ditubuh penyu makanannya normal. Maksudnya, saat saluran cernanya kita buka, makanannya normal. Tidak ada sampah. Ternyata di lab-nya seperti itu, sama seperti di lingkungannya,” ungkapnya.

Kepala Dinas LHK Provinsi Bengkulu Sorjum Ahyan menimpali, dari hasil pengujian air laut mulai kawasan Sungai Hitam hingga Teluk Sepang —pada 10 titik berbeda— ditemukan bahwa air laut masih memenuhi baku mutu.

“Jadi sudah dilakukan pengujian sampel air laut oleh pihak Kementerian LHK. Baku mutu air laut memenuhi, sesuai Permen LH nomor 51 tahun 2004,” tandasnya.

Kepala BMKG Bengkulu Kukuh Ribudiyanto menerangkan, banyaknya buih di air laut rentang 22-24 Desember 2019 lalu, berdasarkan laporan dan analisis pihaknya, bukan akibat limbah. Melainkan dampak banyaknya plankton yang muncul, sehingga menimbulkan buih.

“Ini kita buktikan dengan koordinasi BMKG Lampung dan beberapa kejadian di Jawa Timur. Ternyata buih sebagai tanda banyak plankton di situ yang muncul. Kita sebut a feeling plankton, kalau begitu hangat plankton yang banyak itu berbentuk buih,” tuturnya.

Buih juga disebabkan suhu muka laut dengan penyimpangan (anomali) dingin di perairan sebelah barat Bengkulu antara September hingga awal Desember, dan mulai menghangat kembali pada pertengahan Desember hingga sekarang.[rn/iac]